Farah aiza radhiyya ( cerpen )

TERINSPIRASI DARI TEKS HIKAYAT: PENGEMBARA YANG LAPAR
            
                SEPASANG SAUDARA 
Disebuah pelosok desa hiduplah sepasang saudara perempuan yang saling menyayangi, mereka bernama Adira dan Adara, keduanya terlahir dari keluar yang kaya raya serta tepandang, semua penduduk pasti patuh serta sungka kepada mereka. Kekayaan, derajat serta wajah yang rupaan tak terlepas dari ayah mereka, ayahnya adalah turunan raja, dan seorang saudagar yang kaya raya.
Adira dan Adara selalu menyempatkan waktu untuk sekadar bercengkrama layaknya saudara pada umunya. Di rumah mereka yang terkesan besar dan mewah memiliki puluhan pembantu salah satu diantaranya adalah mbok sina yang bekerja hampir 10 tahun, Adira sudah mengganggap mbok sina sebagai ibunya sendiri.
Bulan berganti tahun, kondisi ayahnya terus menurun membuat mereka merasa sangat khawatir. Hingga suatu hari, dimana ayah mereka jatuh sakit, segala macam obat dari seluruh penjuru desa bahkan kota telah diberikan namun tak ada hasilnya, sang ayah masi saja terbaring lemah dengan wajah pucat pasi. Melihat tak ada kemajuan dari semua pengobatan, mereka berdua hampir saja pasrah.
“ kak, apa yang harus kita perbuat?, melihat keadaan ayah seperti ini aku ingin pasrah saja”, ucap Adara kepada sang kakak, mendengar ucapan Adara, sang kakak hanya berkata “ berdoa saja, kita semua nantinya akan mati, kau tak perlu cemas, jika memang sudah waktunya, kita hanya bisa ikhlas dan berdoa saja”, Adara hanya menanggung sebagai pertanda bahwa ia setuju dengan ucapan sang kakak.
Tak selang beberapa lama kondisi ayah mereka semakin parah. “mbo, tolong panggilkan Adira, saya ingin berbicara dengan dia”, kata ayah mereka kepada mbo sina, mendengar perintah tuannya mbo langsung memanggil Adira, “ permisi, nak Adira dipanggil tuan, beliau sekarang menunggu di kamarnya”, kata mbo sina, Adira pun bergegas untuk menemui sang ayah.
“ menapa ayah memanggilku, apakah ayah membutuhkan sesuatu?”, Tanya Adira kepada ayahnya yang terlihat begitu kurus dan pucat, “ ayah hanya ingin memberitahu bahwa jika nanti ayah sudah tidak ada, ayah mau kau yang menjadi penerus ayah, dan dua pertiga harta ini atas namamu”, jelas ayahnya begitu panjang, seketika Adira terkejut, ia sempat menolak masalah harta yang dimana punyanya lebih banyak daripada sang adik, namun dengan satu alasan akhirnya Adira menyetujuinya.
Tak jauh dari tempat itu, Adara mendengar semua percakapan sang ayah dan kakaknya, ia tidak percaya ayahnya berlaku begitu tidak adil, jika memang alasannya karena ia adalah adik dan masih belum bisa mengurusi semuanya, dia akan menemui ayahnya dan meminta penjelasan. Setelah beberapa hari sikap Adara mulai berubah kepada saudaranya, ia menjadi lebih kasar dan sering membentak sang ayah yang sudah sangat lemah.
Sempat terbesit rasa ingin menyakiti sauadaranya agar nanti ia bisa menguasai sepenuhnya harta sang ayah, namun ia singkirkan pikiran itu, biar bagaimana pun Adira adalah saudaranya. Namun itu semua tak bertahan lama, karena Adara sering melihat saudaranya masuk ke kamar sang ayah, sedangkan ia jarang sekali dipanggil untuk menemui sang ayah.
Malam pun tiba, Adara yang mulai terbakar cemburu dan rasa serakah yang menyelimuti dirinya, mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan sang kakak. Keesokannya Adara datang menemui ayahnya, ia meminta penjelasan tentang pembagian harta yang tak adil, dengan susah payah ayah menjelaskan agar Adara mengerti ,namun karena sudah diselimuti rasa serakah ia tak mendengar ucapan ayahnya, ia terus berdebat dengan sang ayah, hingga ayahnya tak kuat berdebat dengan Adara dan tiba-tiba saja ayahnya jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, seketika itu Adara berteriak meminta tolong, namun takdir berkata lain sang ayah telah tiada, kini tinggal mereka berdua.
Setelah beberapa hari, Adara memutuskan untuk bertanya langsung kepada Adira, bahwa apa sebenarnya alasan sang ayah, mendengar pertanyaan sang adik ia memutuskan untuk menjelaskan alasan ayahnya , setelah mendengar penjelasan kakaknya Adara menagis tersendu-sendu, ia tak menyangka bahwa selama ini ia telah salah paham dan hampir saja menghilangkan nyawa sang kakaknya akibat rasa cemburu dan serakah, sang ayah tidak mau memberikan harta itu secara adil karena ia ingin Adara tumbuh menjadi perempuan yang dewasa dan tak sombong, selain alasan utama sang ayah adalah karena beliau sempat mendengar bahwa ada pria yang ingin menikahi Adara namun karena harta yang dimiliki Adara saja, bukan karena kebaikannya.
                         ~Tamat~


• Unsur intrinsik :
1. Tema : keserakahan dan persaudaraan
2. Penokohan: 
- Adara: tokoh yang memiliki sifat antagonis sebab ia memilki sifat iri dan tak mau mendengarkan penjelasan dari sang ayah
- Adira: tokoh yang memiliki sifat protagonis, sebab ia lebih bersikap dewasa, dan selalu memaafkan sang adik walau adiknya ingin membunuhnya.
- Ayah: tokoh yang memiliki sifat protagonis, sebab ayahnya bersikap sangat dermawan dan sangat menyayangi sang anak
- Mbo sina: tokoh yang memilki sifat protagonist, karena bersikap baik dan terpuji
3. Latar :
- Tempat : di rumah yang besar dan mewah, dikamar, dipelosok desa
- Waktu: malam, bulan berganti tahun, beberapa hari
- Suasana: menyedihkan, dan menegangkan.
4. Alur : alur maju
5. Amanat : dari cerita diatas kita bisa mengambil pesan bahwa, sebagai manusia tak boleh bersikap serakah, dan sebelum bertindak sebaiknya dipikirkan secara mantang dan jika ada masalah ada baiknya mencari kejelasan dari permasalahan agar tidak terjadinya kesalapahaman.


Oleh: Farah aiza radhiyya
Kelas : XD IBNU SINA