kisah sang nenek dan anak perempuan
Kala mentari bersinar dengan cahaya yang terang, bulan tak terlihat karena redupnya, seorang nenek tengah duduk bersantai sambil menikmati teh dengan cuaca yang sedikit mendung. Sudah dua tahun sejak kepergian sang cucu, nenek hanya tinggal sendiri, kesunyian terus datang menghampirinya.
Hingga suatu saat nenek sedang pergi mencari kayu bakar dan masuk kedalam hutan tanpa sengaja ia menemukan apel bertaburan dijalan dan melihat seorang anak perempuan dan bertanya apa yang dilakukan si anak perempuan itu , karena postur tubunya yang sangat kecil si nenek sedikit bingung siapa anak kecil yang berlari-lari dihutan tanpa pengawasan orang tua.
Karena merasa ditatap terus-menerus, anak itu akhirnya mengeluarkan suaranya dan berkata “ kenapa anda melihat saya layaknya orang yang kebingungan?”, ucap si anak dengan intonasi yang sedikit tinggi. Mendengar perkataan si anak, nenek tersebut terdiam dan sedikit heran karena intonasi anak perempuan itu kurang sopan.
“ wahai ibu tua, apa yang membawamu hingga sampai ke hutan ini?”, Tanya anak itu dengan nada yang sangat tidak sopan. Nenek itu dibuat terkaget dengan nada bicara anak perempuan itu, sudah tidak tahan lagi dengan anak itu kemudian nenek bertanya “ untuk apa aku memberitahumu?, cara bicaramu padaku sungguh tak sopan”, ucap sang nenek tak kalah sinis. Anak itu hanya tertawa mendengar pertanyaan sang nenek, “ untuk apa aku berbicara sopan kepadamu, kau itu sama saja dengan orang-orang diluar sana yang selalu menyakiti dan memperdya orang-orang seperti kami”, jelas sang anak perempuan tak kalah panjang.
Sang nenek berusaha mengerti apa sebenarnya maksud dari anak perempuan tadi yang ia ketemui, berhari-hari sang nenek berpikir dan berusaha mencari apa sebenarnya masalah dari anak itu sehingga dia bersikap sang tak sopan.
Setelah beberapa hari mencari titik permasalahan, sang nenek akhirnya tau apa yang menjadi penyebab anak perempuan itu bersikap layaknya tak pernah di ajar oleh orang tuanya. Anak perempuan yang di temui sang nenek ternyata bersikap seperti itu, agar jika ada yang ingin mengambil apelnya dan merusak hutan lagi dia akan memarahinya tanpa memperhatikan umur. Dia hanya ingin terus menjaga hutan karena selama ini dia dibesarkan di hutan bersama alam dan hewan-hewan lainnya.